ISU GONJANG-GANJING HARGA DAN MUTU BERAS PUPUS SUDAH

Denpasar (2017) Belakangan ini isu perbedaan harga beras antara harga beras diprodusen dengan di konsumen menjadi perhatian Pemerintah dan Masyarakat.  Hal ini menjadikan Pemrintah sangat serius  memperhatikannya. Para pemangku kebijakan ditingkat Pemerintah Pusat membahas secara  mendalam tentang harga dan mutu beras, akhirnya disepakati diterbitkannya Peraturan Menteri Pertaian Nomor 31/PERMENTAN/PP.130/8/2017  tentang Kelas Mutu Beras dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 57/M-DAG/PER/8/2017 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras.
Permentan Nomor 31/PERMENTAN/PP.130/8/2017  menyatakan bahwa kelas mutu beras terrdiri dari 3 (tiga) kelas yakni Beras Medium, Beras Premium dan Beras Khusus. Beras medium adalah beras yang memiliki derajat sosoh 95%, kada air 14 %, bentuk curah atau kemasan, Butiran patah maksimal 25 % wajib mencantumkan label beras medium dan Harga Eceran Tertinggi dalam kemasannya, sedang kan beras Premium adalah beras yang memiliki derajat sosoh 95%, kada air 14 %, bentuk  kemasan, Butiran patah maksimal 15 %  dan wajib mencantumkan label beras Premium dan Harga Eceran Tertinggi dalam kemasannya Perbedaan antara beras Premiun dengan beras Medium terletak pada prosentase butir patah 25%, Total butir beras lainnya (maks), terdiri atas Butir Menir, Merah, Kuning/ Rusak, Kapur 5%, butir gabah 1 butir/100 gram beras dan benda lainnya 0,10% pada beras Medium, sedang beras premium prosentase butir patah 15%, Total butir beras lainnya (maks), terdiri atas Butir Menir, Merah, Kuning/ Rusak, Kapur 0%, butir gabah 0 butir/100 gram beras dan benda lainnya 0%. Khusus Beras terdiri dari Beras Ketan, beras Merah, Hitam, Beras untuk Kesehatan dengan persyaratan Terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan, Beras Organik dengan persyaratan Bersertifikat yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Organik, Beras Indikasi Geografis dengan persyaratan Terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Varietas lokal yang telah mendapatkan pelepasan oleh Menteri Pertanian dengan persyaratan Varietas lokal yang telah mendapatkan pelepasan oleh Menteri Pertanian, serta Beras tertentu yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri adalah beras yang berasal dari luar negeri dan dinyatakan belum dapat diproduksi di dalam negeri serta varietasnya belum dilepas oleh Menteri Pertanian, diantaranya: Thai Hom Mali, Thai Jasmine Rice, Parboiled Rice, Japonica, Basmati, kriteria Beras Khusus ini akan diatur dan ditetapkan lebih lanjut oleh Kementerian Pertanian.
Permendag Nomor 57/M-DAG/PER/8/2017 mengatur Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras dan dinyatakan mulai berlaku tanggal 1 September 2017, dimana di beberapa daerah di Indonesia berbeda-beda, khusus di Bali dan Nusa Tenggara Barat HET beras Medium sebesar Rp 9.450,00/Kg dan Beras Premium sebesar Rp. 12.800,00/Kg.  HET tertinggi berlaku di Papua dan Maluku yakni untuk beras Medium sebesar Rp 10.250,00/Kg dan Beras Premium sebesar Rp. 13.600,00/Kg. Dijelaskan lebih jauh oleh Badan Ketahanan Pangan Pusat perbedaan harga beras tersebut dengan mempertimbankan tidak terjadi distribusi yang tidak terkontrol atau diistilahkan beras wisata dan bagi daerah di Indonesia yang tidak menghasilkan beras yang kebutuhan berasnya harus dipasok dari luar daerah maka sangat logis  bila harganya lebih mahal seperti di Papua dan Maluku.

Sosialisasi tentang kedua ketentuan tersebut diatas disampaikan pada tanggal 4 Oktober 2017 dengan tema Kebijakan Perberasan, dimana hadir produsen beras (petani), pelaku usaha penyosohan beras, pedagang pengumpul sampai pedagang grosir, kelompok tani, Instansi terkait dari tingkat Kabupaten/Kota seBali dan tingkat Provinsi.  Sebagai narasumber dai Badang Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Sekretaris Badan), Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Bali dan Reskrim Polda Bali selaku Satgas Pangan tingkat Daerah,  serta dipinpim oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali. Masing-masing narasumber menjelaskan ketentuan yang baru saja diberlakukan dan pengawasan terhadap peredaran bahan pokok pangan yang sering terjadi penyimpangan.

Diskusi hangat terjadi, khusus pada Harga Eceran Tertinggi yang ditentukan untuk daerah Bali untuk beras Medium sebesar Rp  9.450,00/Kg, dan beras Premium sebesar Rp. 12.800,00/Kg, Pelaku Usaha Perberasan menyampaikan bahwa Harga Eceran Tertinggi tersebut dirasakan sangat kurang memadai untuk  penjualan beras dipasar modern, dimana dengan system manajemen pengelolaan sangat berbeda dibandingkan di pasar tradisional, yang wajar mestinya dipasar modern lebih tinggi 30 % dibandingkan di pasar tradisional.  Terhadap hal tersebut dijelaskan oleh Narasumber dari Badan Ketahanan Pangan bahwa Lebih jauh dijelaskan bahwa ditingkat pusat telah disepakati adanya kelebihan harga penjualan beras di pasar modern lebih tinggi 8 % diatas harga HET beras dalam kemasan.
Terkait dengan waktu pemberlakuan ketentuan tersebut diatas dan adanya pengawasan peredaran bahan pokok oleh Satgas Pangan, para pedagang beras dipasar modern belum  sepakat.  Para nara seumber menegaskan bahwa Para pelaku usaha sudah harus mentaati ketentuan yang berlaku seperti dilakukan pelabelan diikuti oleh kesiapan para pelaku usaha yang harus menyatakan diri dengan membuat surat pernyataan bahwa beras yang dijual sudah dengan mutu beras tertentu (beras Medium, Premium atau Beras Khusus) dan menjual berasnya sesuai  harga ketentuan dan mencantumkannya pada label kemasan.  Namun demikian ketentuan kebijakan perberasan ini masih masih perlu penyempurnaan, sehingga pada akhirnya pihak produsen dan kunsumen sama-sama terlindungi dan saling menguntungkan (arjawa).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *