simantri2

SIMANTRI MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN

I.  PENDAHULUAN

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor andalan dalam pembangunan ekonomi nasional karena memiliki kontribusi yang dominan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung dalam pencapaian tujuan pembangunan perekonomian nasional.  Sektor pertanian jelas memiliki peranan yang sangat dominan, khususnya dalam pemantapan ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan pendapatan, namun dalam kontribusi terhadap pertumbuhan PDB cenderung mengalami penurunan.  Tidak kalah pentingnya adalah peranan sektor pertanian dalam aspek ekologi guna mendukung kelestarian sumberdaya alam, lingkungan hidup, seperti pelestarian sumber daya air, penyedia oksigen dan mengurangi degradasi lahan.

Fakta juga menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang paling tangguh dalam menghadapi krisis dan berjasa dalam menampung pengangguran sebagai akibat krisis ekonomi yang terbukti dari kemampuannya untuk tumbuh secara positif sebesar 0,22% pada saat krisis  ekonomi tahun 1998 , sementara perekonomian nasional secara agregat mengalami kontraksi yang sangat hebat, yaitu sebesar  13,7% (Saragih, 2001).

Untuk mewujudkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, regional maupun nasional, menuntut tersedianya  bahan pangan yang cukup, baik dari segi kuantitas maupun kualitas serta terjangkau oleh masyarakat.  Beras sebagai bahan pangan pokok masyarakat Indonesia menjadi komoditas strategis karena

disamping menentukan terhadap pembangunan sumber daya manusia, juga sangat terkait dengan stabilitas sosial, politik, keamanan dan ketahanan nasional yang sangat diperlukan dalam pembangunan ekonomi nasional.

Kebutuhan terhadap beras di Bali dari tahun ke tahun cenderung terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk baik untuk konsumsi, industri bahan makanan maupun untuk keperluan upacara agama.  Peningkatan jumlah konsumsi tidak seimbang dengan peningkatan jumlah produksi yang dihasilkan.  Berdasarkan data dari Badan Pusat Statisik Provinsi Bali, produksi padi di Bali tahun 2012 mencapai 865.554 ton GKG, mengalami peningkatan sebesar 0,85% dibandingkan dengan produksi tahun 20113 yang mencapai 858.291 ton GKG. Peningkatan produksi tersebut terutama disebabkan karena terjadinya peningkatan luas panen dan produktivitas.  Rata-rata produktivitas padi di Bali tahun 2012 mencapai 5,809 ton/Ha GKG, meningkat 3,27% dibandingkan dengan produktivitas tahun 2011 yang mencapai  5,625 ton/Ha GKG.

Usaha untuk mewujudkan ketahanan pangan khususnya beras, menghadapi berbagai kendala dan permasalahan, seperti : alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian, persaingan air, anomali iklim, serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), adanya gejala pelandaian produktivitas (levelling off) dan lain-lain yang memerlukan upaya-upaya pemecahannya.

II. PERMASALAHAN DAN TANTANGAN PERTANIAN DI BALI

Di tengah peran strategis sector pertanian di Bali, khususnya terkait dengan upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan, terdapat beberapa permasalahan dan tantangan yang dihadapi sector pertanian di Bali guna menguatkan kapasitasnya dalam berproduksi dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, antara lain : 1). Alih fungsi lahan sawah ke bukan sawah yang juga berdampak pada terganggunya atau rusak/hilangnya infrastruktur yang ada, seperti ; jaringan irigasi, jalan usahatani dan infrastruktur subak lainnya.  Data menunjukkan bahwa pada tahun 2009 total lahan sawah di Bali tercatat seluas 81.931Ha, sedangkan pada tahun 2012 total lahan sawah tercatat 81.625 Ha .  Ini berarti dalam kurun waktu 4 (empat) tahun dari 2009 s/d tahun 2012 tercatat alih fungsi lahan sawah sebesar 306 Ha  (0,37%) atau sekitar 76,5 Ha/tahun; 2) Relatif sempitnya lahan yang dikelola masing-masing petani yang rata-rata hanya ± 0,30 Ha, bahkan hampir sebagian merupakan petani penggarap (bukan pemilik lahan). Kecilnya tingkat kepemilikan/garapan mengakibatkan usahatani yang dikelola kurang memenuhi skala ekonomi dan usaha tani yang dilaksanakan menjadi kurang efisien; 3) Terjadinya kompetisi pemanfaatan sumberdaya air antara untuk pertanian dan non pertanian (konsumsi rumah tangga, bisnis). Disamping itu kondisi jaringan irigasi desa/tingkat usahatani yang dominan dalam keadaan rusak sehingga berpengaruh pada inefisiensinya irigasi dan terbatasnya luas tanam. Hal ini juga berpengaruh terhadap terus semakin besar/meningkatnya biaya operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi yang harus ditanggung petani (jaringan tersier dan kwarter); 4). Kondisi iklim yang sering ekstrim dan berubah-ubah menyebabkan terjadinya bencana kekeringan dan atau kebanjiran pada lahan usahatani. Kondisi iklim ekstrim juga berpengaruh terhadap perkembangan Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT) dan penurunan tingkat produktivitas; 5). Rendahnya SDM petani ditambah lagi bahwa sebagian besar petani merupakan penduduk kelompok umur > 50 tahun dengan produktivitas yang sudah mulai menunjukkan penurunan; 6). Kurangnya minat generasi untuk menggeluti usaha di sektor pertanian, karena terkesan kumuh/kotor serta dianggap kurang menjanjikan dibandingkan dengan bekerja di sektor jasa lainnya; 7). Kendala-kendala lainya seperti ; keterbatasan modal usahatani, harga-harga sarana dan peralatan produksi yang masih dirasakan mahal dilain pihak harga jual produk yang biasanya jatuh pada saat panen raya.

Disamping permasalahan di atas, upaya-upaya meningkatkan produktivitas dan produksi bahan pangan khususnya beras, yang dilaksanakan  melalui upaya peningkatan mutu intensifikasi dalam bentuk pemberian input tinggi atau yang lebih dikenal sebagai sistem usahatani HEIA (Height External Input Agriculture), pada awalnya memang terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan produksi beras tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini telah menunjukkan gejala-gejala pelandaian (leveling off) atau kejenuhan, salah satunya sebagai akibat pemberian input/sarana produksi yang kurang memperhatikan dan mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.  Eksploitasi lahan sawah secara intensif yang berlangsung secara terus menerus dan berlangsung bertahun-tahun telah mengakibatkan penurunan kesuburan dan sifat fisik maupun kimia tanah.  Pemberian pupuk kimia (anorganik) secara terus menerus untuk  mengejar tingkat produktivitas, tanpa diimbangi dengan upaya-upaya memperbaiki kondisi fisik tanah melalui penambahan bahan organik menyebabkan kandungan bahan organik tanah menurun, tanah menjadi kompak, kerusakan struktur tanah dan aerasi tanah berkurang yang mengakibatkan penurunan kemampuan tanah dalam menyimpan dan melepaskan hara dan air bagi tanaman sehingga mengurangi efisiensi penggunaan pupuk dan air irigasi, dimana kondisi ini dikenal sebagai tanah sakit (soil sickness) (Budianto, 2002).

Dengan pemberian pupuk anorganik secara terus menerus dengan dosis/takaran tinggi dan kurang mempertimbangkan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah dan dalam kurun waktu yang lama telah menyebabkan : penimbunan hara (umumnya P dalam tanah), terkurasnya hara mikro, terganggunya keseimbangan hara dalam tanaman, semakin pekanya tanaman terhadap serangan penyakit, terganggunya perkembangan jasad renik yang menguntungkan dalam tanah bahkan tercemarnya air minum manusia dan ternak oleh unsur-unsur nitrat dari residu pupuk N.  Kondisi demikian pada akhirnya

mengakibatkan penurunan produktivitas lahan, tidak efisiennya penggunaan input serta menurunnya kualitas lingkungan (Hafsah, 2003).

Memperhatikan permasalahan tersebut di atas sekaligus sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian yang lebih memfokuskan kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, sekaligus membangun pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), maka perlu adanya upaya-upaya terobosan melalui perbaikan dan penyempurnaan dalam berusahatani dari berbagai aspek, baik teknis maupun kelembagaan guna menuju pertanian berkelanjutan.  Untuk menjawab semua permasalahan tersebut di atas dan menuju pembangunan pertanian berkelanjutan, Pemerintah Provinsi Bali telah mengembangkan teknologi inovatif yang disebut Sistem Pertanian Terintegrasi atau yang lebih dikenal dengan sebutan SIMANTRI. SIMANTRI merupakan salah satu Program Unggulan Pemerintah Provinsi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani dan keluarganya.

III. PERTANIAN BERKELANJUTAN

Usahatani merupakan suatu jalinan yang kompleks yang terdiri dari : tanah, tumbuhan, hewan, peralatan, tenaga kerja, input lain dan pengaruh-pengaruh lingkungan yang dikelola oleh seorang petani sesuai dengan kemampuan dan aspirasinya.  Usahatani sebagai suatu system untuk dapat berkelanjutan harus dikelola secara bijaksana berdasarkan kemampuan lingkungan fisik, biologis dan sosioekonomis serta sesuai dengan tujuan, kemampuan dan sumberdaya yang dimiliki petani sehingga tidak mengakibatkan penurunan daya dukung sumber daya alam dalam jangka panjang.

Dalam pertanian berkelanjutan, suatu system usahatani harus menghasilkan suatu tingkat produksi yang memenuhi kebutuhan material (produktivitas) dan

kebutuhan social (identitas) petani dalam batas-batas keamanan tertentu dan tanpa penurunan sumber daya alam dalam jangka panjang. Karena tujuan keamanan, kesinambungan dan identitas biasanya bersaing dengan tingkat produktivitas yang sifatnya segera.

 

Pertanian berkelanjutan dijumpai pada konsep LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture).  LEISA mengacu pada bentuk-bentuk usahatani yang berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya local yang ada dengan mengkombinasikan berbagai macam komponen system usahatani yaitu : tanaman, ternak/hewan, tanah, air, iklim dan manusia sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang paling besar, serta berusaha mencari cara pemanfaastan input luar hanya bila diperlukan untuk melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam ekosistem dan meningkatkan sumberdaya biologi, fisik dan manusia dengan titik perhatian utama melalui maksimalisasi daur ulang dan meminimalisasi kerusakan lingkungan.

Prinsip-prinsip dasar ekologi pada pertanian LEISA adalah sebagai berikut :

  1. Menjamin kondisi tanah yang mendukung bagi pertumbuhan tanaman, khususnya dengan mengelola bahan-bahan organic dan meningkatkan kehidupan mikro organisme dalam tanah.
  2. Mengoptimalkan ketersediaan unsur hara dan menyeimbangkan arus unsur hara, khususnya melalui pengikatan Nitrogen, daur ulang dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap.
  3. Meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi Matahari, udara dan air melalui pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air dan pengendalian erosi.
  4. Meminimalkan serangan hama dan penyakit terhadap tanaman dan hewan melalui pencegahan dan perlakuan pengendalian yang aman.
  5. Saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumber daya genetic yang mencakup penggabungan dalam system pertanian terpadu.

Dalam system pertanian berkelanjutan agar usahatani tetap produktif dan sehat, harus ada jaminan bahwa jumlah unsur hara yang hilang dari tanah tidak melampaui jumlah unsur hara yang dikembalikan ke tanah, sehingga tetap produktif dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *