Daya Saing Budi Daya Gumitir di Provinsi Bali

Kebebasan petani dalam berusaha tani telah dijamin Undang-Undang, hal ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para petani. Selama ini para petani sawah sudah menjadi kebiasaan beruasaha tani padi setiap musin hujan sampai 2 – 3 kali musim tanam, namun petani sering kecewa dengan harga gabah cendrung menurun pada musim panen raya, dan pentani belum memperoleh keuntungan sesuai yang diharapkan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usaha tani padi adalah berkisar antara Rp. 16.200.000 /Ha dalam kurun waktu 4 bulan termasuk masa persiapan tanam. Bila dihitung pendapat petani perbulan adalah sebesar Rp. 3.691.250 hal ini belum mencukupi kebutuhan petani dan keluarganya yang pada era sekarang sangat tinggi kebutuhannya. Banyak petani mulai mencari alternative usaha tani seperti hartikultura dari muali sayur daun, sayur buah sampai pada jenis bunga-bungaan seperti bunga gemitir salah satunya.

Bapak Ketut Bagiarta asal  Desa Tua Marga Tabanan menuturkan bahwa telah berbudi daya gemitir sejak dua tahun terakhir ini dan sampai saat ini telah menanam gemitir seluas 8,00 Ha. Lahan yang diusahakan adalah dengan menyewa sebesar Rp. 10.000.000/Ha/6 bulan, biaya yang diperlukan dalam usaha tani  bunga gemitir sebesar Rp. 82.000.000/Ha/1 musim panen belum termasuk ongkos panen. Selama ini dari perhitungan usaha tani yang dilakukan selama 2 – 3 bulan dalam satu kali musim tanam, keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 42.000.000/Ha/1 musim tanam.

Bapak Agus pemilik perusahaan pembibitan tanaman gemitir menjelaskan disela-sela pembukaan outletnya dikawasan Pasar Bringkit pada hari Minggu tanggal 11 Pebruari 2018 menjelaskan bahwa Usahatani gemitir ini telah berkembang sampai ke Pulau Lombok. Ditambahkan pula bahwa dalam sebelum tidak kurang dari 100.000 pohon bibit dibutuhkan oleh petani di Bali maupun Lombok.  Usaha tani ini mempunyai prospek cukup bagus kedepannya di Pulau Dewata Bali ini, dimana masayarakatnya yang dominan penganut Agama Hindu, para umatnya sangat taat dalam menjalankan yadnya setiap hari maupun hari-hari tertentu yang memerlukan bunga sebagai perlengkapan sesajen. Setiap hari tidak kurang dari 8.000 kg kebutuhan bunga gemitir setiap laku terjual di Bali dengan perkiraan nilai Rp 100 – 200 milyar pertahun menurut perkiraan Wakrimin.

Harga bunga gumitir sangat berfluktuasi, pada hari-hari dimana tidak ada hari (rerainan) tertentu yang jatuhnya rutin harga bungagumitir tidak dari Rp. 5.000,00/Kg, bila menjelang 3 hari purnama harga mulai naik dari harga Rp. 15.000,00 – Rp. 25.000,00/kg atau hari raya besar umat Hindu seperti Galungan dan Kuningan harga Bungan gumitir bisa mencapai Rp. 30.000,00 – Rp. 35.000,00/Kg.  Hal lain juga bisa berpengaruh adalah supply pasar, namun tidak banyak berpengaruh karena sentral pengembangan tanaman gemitir yakni di Kabupaten Badung dan Kabupaten Tabanan, sedangkan kebutuhan akan bunga gumitir hamper disemua Kabupaten/Kota se Bali dan hal ini juga menyebabkan distribusi bunga gemitir ke Kabupaten/Kota yang sedikit atau hamper tidak ada produksi bunga gemitir.  Para spekulan dari daerah bukan sentral tanaman gumitir akan membeli bunga gemitir untuk dijual didaerahnya, sehingga harga bunga menjelang hari besar keagamaan khusus Agama Hindu tetap tinggi.

Belakangan tanama sampai bunga gemitir bukan hanya sebagai pelengkap sesjen tapi juga bahan penghias dekorasi pada event-event penting seperti pameran, rapat-rapat, dan perayaan hari penting.  Juga para penikmat bunga gemitir juga digunakan sebagai kebun bunga baik di rumah tangga, kantor-kantor, hatel dan restoran atau rumah makan. Penjual gemitir bukan saja berupa bunga tapi juga tanaman dalam pot yang sudah berbunga juga banyak diminati oleh masayarakat. Disamping itu pula bunga gumitir sudah juga diolah menjadi beberapa jenis olahan seperti teh gemitir, juga dibuat camilan, dan bahan cmpuran kue-kue bali.  Teh gemitir organic menurut informasi telah diekspor ke beberapa Negara.  Hal ini menunjukkan bahwa usaha tani budi daya gemitir kedepan akan mempunyai daya saing baik dan akan berkembang dengan baik.

Oleh : KETUT ARJAWA. SP, M.SI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *