PENINGKATAN PRODUKSI MELALUI PEMANGKASAN DAN PEMBUATAN RORAK

Oleh :
I Dewa Ayu Yona Aprianthina, SP. M.Sc
(Pengendali OPT Ahli Pertama)

Rorak00

Berhasilnya suatu budidaya tanaman kopi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, antara lain: iklim, kesuburan tanah, bahan tanam, pemeliharaan tanaman, dan sebagainya.  Salah satu faktor tindakan budidaya yang penting adalah pemangkasan tanaman kopi. Buah kopi terbentuk pada cabang-cabang lateral (primer atau sekunder) yang merupakan produk dari pertumbuhan vegetatif. Pada prinsipnya pemangkasan tanaman kopi bertujuan untuk mengatur pertumbuhan vegetatif tanaman kopi ke arah pertumbuhan generatif yang lebih produktif.  Pemangkasan bertujuan mengatur tanaman kopi agar tidak hanya menghasilkan banyak cabang dan daun, tetapi juga menghasilkan banyak buah.

Dalam budidaya tanaman kopi, pemangkasan merupakan tindakan yang tidak boleh diabaikan dan tidak semudah seperti apa yang diperkirakan orang, sebab kesalahan dalam melakukan pemangkasan merupakan salah satu sebab menurunnya produksi.  Oleh sebab itu sebelum melakukan pemangkasan haruslah diketahui sifat pertumbuhan tanaman kopi sehingga dapat menentukan pelaksanaan serta cara pemangkasan yang tepat.
Kopi yang tumbuh terlanjur tinggi menyebabkan nutrisi yang diserap akar pohon dari tanah disebarkan ke seluruh ranting pohon sehingga penyerapan nutrisi ke cabang produktif untuk memperbanyak produksi buah kopi tidak maksimal. Tujuan pemangkasan tanaman kopi antara lain sebagai berikut :

  1. Agar tanaman kopi tetap rendah sehingga memudahkan pemanenan.
  2. Untuk mendapatkan cabang-cabang produktif baru secara terus menerus.
  3. Mempermudah masuknya cahaya ke dalam tubuh tanaman kopi untuk merangsang  pembentukkan bunga.
  4. Memperlancar peredaran udara di dalam kebun sehingga dapat memperlancar pernyerbukan dan mengurangi kelembaban kebun.
  5. Mengatur letak, umur dan bentuk dari cabang produktif sesuai dengan pola yang dikehendaki.
  6. Untuk membuang cabang-cabang yang tidak dikehendaki, misalnya cabang yang telah tua dan tidak produktif lagi, dan cabang-cabang yang tidak diperlukan.
  7. Membantu mencegah tersebarnya hama dan penyakit.
  8. Untuk mengurangi “biennial bearing” supaya hasil stabil setiap tahun.

Ada 3 jenis pemangkasan antara lain pemangkasan bentuk, produksi, dan rejuvinasi(peremajaan). Pemangkasan bentuk untuk memangkas bagian cabang yang kurang produktif agar unsur hara yang diberikan dapat tersalur pada batang-batang yang lebih produktif. Pemangkasan tanaman kopi merupakan salah satu di antara tindakan teknis budidaya yang penting, bertujuan untuk mengarahkan pertumbuhan tanaman kopi agar menjadi sehat, kuat, mempunyai keseimbangan antara pertumbuhan vegetatif dan generatif, sehingga tanaman lebih produktif. Secara morfologi buah kopi akan muncul pada percabangan, oleh karena itu diperoleh cabang yang banyak. Pangkasan dilakukan bukan hanya untuk menghasilkan cabang-cabang saja (pertumbuhan vegetatif) tetapi juga banyak  menghasilkan buah. Pangkasan produksi bertujuan untuk menjaga keseimbangan kerangka tanaman yang telah diperoleh melalui dari pangkasan bentuk. Pemangkasan cabang-cabang yang tidak produktif yang biasanya tumbuh pada cabang primer, dan cabang balik, cabang cacing (adventif). Pemangkasan cabang-cabang tua yang tidak produktif biasanya telah berbuah 2-3 kali, hal ini bertujuan agar dapat memacu pertumbuhan cabang-cabang produksi. Apabila tidak ada cabang-cabang reproduksi, cabang tersebut harus dipotong juga agar zat hara dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan cabang lain yang lebih produktif. Pemangkasan juga dilakukan terhadap cabang yang terserang hama hal ini agar tidak menjadi sumber inang.

Pangkasan rejuvinasi (peremajaan) bertujuan untuk memperoleh batang muda, untuk sistem berbatang ganda pangkasan produksi adalah juga merupakan pangkasan rejuvinasi. Pangkasan ini dilakukan apabila produksi rendah tetapi keadaan pohon-pohon masih cukup baik. Untuk lokasi kebun yang banyak diperoleh tanaman yang mati (lebih 50%) sebaiknya dilakukan penanaman ulang (replanting). Pemangkasan ini dilakukan terhadap batang pada tinggi ± 50 cm, pada menjelang musim hujan. Apabila batang nampak halus, biasanya wiwilan sukar keluar, kurang lebih 1 tahun sebelum dilakukan rejuvenasi tanaman harus dipotong (distump). Agar produksi tidak menurun secara drastis, maka pemangkasan rejuvinasi hendaknya dilakukan pada akhir suatu tahun panen besar (akhir on-year). Selain itu, untuk meningkatkan  produksi kopi dapat juga dilakukan pengairan dan pemupukan yang rutin dan tepat. Bahan-bahan organik dari sisa tanaman yang tidak digunakan dapat dikumpulkan pada lubang rorak sebagai sumber unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman di sekitarnya.

Adapun tujuan pembuatan rorak antara lain sebagai berikut :

  1. Untuk mencegah disposisi/transportasi partikel tanah oleh erosi dan aliran permukaan ( run off)
  2. Menampung air hujan yang jatuh dan aliran permukaan dari bagian atas, serta partikel tanah yang tererosi dari bagian atasnya.
  3. Untuk menampung bahan organik, sisa-sisa tanaman sebagai sumber unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman di sekitarnya.

Rorak berfungsi sebagai media penyerapan air, yakni air hujan akan ditampung dalam kubangan. Gulma hasil penyiangan, daun hasil pangkasan akan di dekomposisi atau dihancurkan oleh jasad renik tanah. Material organik tersebut akan diuraikan menjadi pupuk yang subur dan bermanfaat bagi tumbuhan.

Rorak yang telah penuh dengan sampah tumbuhan, kemudian di timbun lalu berpindah dengan membuat lubang di sekitarnya. Artinya sampah yang membusuk akan menjadi humus, material yang subur berupa kompos. Nah jika tanah sudah subur, maka tak perlu dilakukan pemupukan, sehingga hemat. Tanah juga akan meningkat tingkat kesuburannya, sehingga ualitas tanah semakin membaik dan menambah unsur hara bagi tanaman kopi sehingga mampu meningkatkan hasil produksi buah kopi.

Beberapa strategi dilakukan pihak pemerintah sebagai upaya mempercepat peningkatan produksi, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali untuk mewujudkan kemandirian pangan dan pendapatan masyarakat petani sesuai dengan visi Gubernur Bali yaitu Nangun Sat Kerti Loka Bali. Pembinaan terkait usaha peningkatan produksi melalui pemangkasan dan pembuatan rorak dilakukan oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali di demplot mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim milik Subak Abian Pebunut, Desa Catur, Kintamani, Kabupaten Bangli pada Selasa, 1 Oktober 2019. Pada pertemuan tersebut juga petani diberikan ilmu dan teknis serta alat grading yang akan digunakan untuk mensortasi ukuran biji kopi sesuai tingkatannya dan dapat menyesuaiakan dengan perminbtaan pasar pembeli. Selain itu, pada kesempatan tersebut juga telah dilakukan perjanjian kerjasama antara Direktur PT.SGM (Sumber Gizi Makmur)/Ir. Dody Irawan dengan Kelian SA.Pebunut/I Wayan Ginas. Permintaan produk kopi arabika non organik dari SA. Pebunut minimal sejumlah 2 ton per tahun yang akan dimulai pada bulan Mei 2020. Produk yang dihasilkan oleh SA.Pebunut antara lain pupuk kompos, urine kambing dan MOL yang juga telah diperjualbelikan sehingga mampu menambah pendapatan bagi petani.