Petani Bali Ekspor 11 Ton Beras Merah ke Amerika

Indonesia untuk kali pertama mengekspor 11 ton beras merah ke Amerika Serikat (AS) di awal tahun 2018 ini. Eksportasi beras merah dilakukan melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Pemerintah menyatakan petani di Bali baru saja mengekspor komoditas beras merah sebanyak 11 ton. Ekspor tersebut dilakukan di tengah kebijakan pemerintah untuk mengimpor 500 ribu ton beras khusus. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, di tengah polemik soal impor beras di Tanah Air, petani-petani di Bali justru mengekspor beras ke luar negeri, tepatnya ke Amerika Serikat. “Ini memang bukan beras biasa, tapi beras merah. Sebanyak 11 ton beras merah yang diekspor ke Oakland tersebut merupakan hasil budi daya petani padi organik di Bali. Dari hasil pemeriksaan fisik dan kelengkapan dokumen yang dilakukan oleh Karantina Surabaya, beras merah ini bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) sehingga dapat diterbitkan Phytosanitary Certificate (PC Certificate) sebagai persyaratan ekspor komoditas pertanian.

Pada 23 Januari 2018, ekspor perdana beras merah sebanyak 11 ton ke Amerika itu telah dilakukan. Ia menjelaskan, dari hasil pemeriksaan fisik dan kelengkapan dokumen, beras merah tersebut bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), sehingga dapat diterbitkan Phytosanitary Certificate. “Beras merah dari Bali dikirim melalui Pelabuhan Laut Tanjung Perak, Surabaya menuju Oakland, Amerika Serikat,”. Kepala Balai Besar Karantina Surabaya Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Musyaffak Fauzi, mengapresiasi upaya eksportir dan petani yang memberikan nilai tambah bagi produk pertanian. Ia mengatakan Karantina Pertanian akan mengakselerasi ekspor namun terlebih dahulu memastikan beras merah yang akan diekspor tersebut sehat, aman dikonsumsi, dan sesuai dengan persyaratan ekspor dari negara tujuan. “Beras dengan kaya manfaat ini digemari tidak saja oleh masyarakat di dalam dan di luar negeri seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan,”. Musyaffak menambahkan kandungan gizi pada beras merah (Oryza Glaberima) lebih beragam ketimbang beras putih, yaitu memiliki karbohidrat, serat, vitamin B, magnesium, fosfor, kalsium, dan kalium. Maka tidak heran komoditas ini banyak diburu hingga peminatnya berasal dari negara lain di dunia. Kandungan gizi yang kaya membuat harga beras merah lebih tinggi daripada beras putih. Ini adalah peluang yang tidak disia-siakan para petani di Bali meraup untung besar dengan memasarkan beras merahnya ke luar negeri.Beras merah (Oryzae glaberima) memang salah satu komoditas pangan yang diburu dan diminati masyarakat baik dalam maupun luar negeri. “Hal ini karena kandungan gizi di dalamnya yang yang lebih beragam daripada beras putih yaitu: karbohidrat, serat, vitamin B, magnesium, fosfor dan kalsium dan kalium,”. Harganya pun, lebih tinggi dari beras putih. Ia mengaku balai karantina pertanian mendukung dengan memastikan beras merah yang akan diekspor tersebut sehat, aman dikonsumsi dan sesuai dengan persyaratan ekspor dari negara tujuan. Di sisi lain, Kementerian Perdagangan akan mengimpor beras khusus demi menjaga stok dan harga beras yang saat ini melonjak di pasaran. Rencananya, beras khusus yang diimpor memiliki volume 500 ribu ton dan akan sampai di Indonesia akhir Januari 2018 ini.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, langkah impor ini diambil sebagai solusi yang efektif dalam waktu singkat. Menurutnya, panen memang sudah mulai terjadi pada bulan Januari dan Februari, hanya saja, jumlahnya masih belum bisa ditentukan. “Dari sisi pasokan, panen memang ada setiap hari cuma jumlahnya berbeda. Diperkirakan, Februari hingga Maret kami akan mengisi gap ini dan kami tak mau kekurangan pasokan, maka kami akan impor beras khusus, yakni beras yang tidak ditanam di dalam negeri,”.

 

Oleh : KETUT UNDIARTA, SP. (APHP Muda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *