TOKO TANI INDONESIA DENGAN KONSEP MENGEMBANGKAN BISNIS E-COMMERCE

Upaya memperpendek/memotong rantai pasar hasil pertanian yakni dari mulai pedagang pengumpul, pedagang grosir sampai ke pedagang pengecer menjadi focus perhatian Pemerintah untuk mengendalikan pasokan dan harga pasar yang sering dikendalikan oleh broker-broker. Upaya tersebut juga mengurangi disparitas harga antara produsen dengan konsumen akhir dapat terwujud sehingga dengan demikian petani produsen mendapat harga yang sesuai tanpa adanya disparitas harga yang menonjol.
Toko Tani Indonesia Center (TTIC) yang digagas oleh Kementerian Pertanian  yang dimulai Tahun 2016 pada dasarnya merupakan bagian dari model Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM). TTIC dibentuk dalam rangka menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan pokok strategis, rantai distribusi pemasaran yang terintegrasi agar lebih efisien, harga konsumen dapat ditransmisikan dengan baik kepada harga petani (produsen), informasi pasar antar wilayah berjalan dengan baik, mencegah terjadinya Patron-Client (pemasukan pangan ke pasar suatu wilayah hanya boleh dipasok oleh pelaku usaha tertentu), dan mencegah penyalahgunaan market power oleh pelaku usaha tertentu.
Tujuan PUPM melalui kegiatan TTIC adalah : (1) Menjaga harga di tingkat produsen; (2) Memotong rantai pasok; (3) Menekan harga di tingkat konsumen; (4) Mengurangi keuntungan middleman; serta (5) Merubah struktur pasar. Menurut Rencana sasaran lokasi PUPM melalui TTIC adalah Lembaga Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (LPUPM) pada Tahun 2018 terbentuk 1.500 dan Tahun 2019 terbentu 2.000 LPUPM dan TTIC Tahun 2018 terbentuk 1.500 dan Tahun 2019 terbentuk 2.000 TTIC (Sumber Renstra Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian).

Gedung TTIC Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali

Penjelasan Kepala Dinas Ketahanan pangan Provinsi Bali di Provinsi Bali bahwa Dinas Ketahanan Pangan sejak Tahun 2016 sampai Tahun 2018 telah mengimplementasikan program PUPM Kementerian Pertanian dengan membentuk sebanyak 14 LPUPM di 7 Kabupaten/Kota Se Bali kecuali Kabupaten Bangli dan Klungkung dan telah terbentuk sebanyak 86 Toko Tani Indonesia Center di 7 Kabupaten/Kota Se Bali kecuali Kabupaten Bangli dan Klungkung yang belum membentuk. 14 LPUPM yang telah terbentuk khusus untuk sektor pangan beras di Bali untuk sementara anggotanya baru dari Pengusaha Penyosohan Padi. Sementara itu Dinas Ketahanan pangan Provinsi Bali telah mendirikan TTIC di lingkungan Kantornya di Jalan WR. Supratman No 71 Denpasar yang telah dilaunching oleh Gubernur Bali pada tanggal 25 Mei 2018. Pendirian TTIC ini sekaligus ada dua pihak yang dibantu dan dilayani yakni pihak produsen dan konsumen dengan disparitas harga tidak banyak.
Pada kesempatan lounching Toko Tani Indonesia Center tersebut oleh Gubernur Bali menekankan bahwa kedepan pemasaran produk hasil pertanian melalui online dengan program aplikasi E-comerce yakni penjualan sendiri secara online agar lebih efesiennya biaya pemasaran dan kepastian pasar dalam penyerapan produk. Dengan telah berkembangnya teknologi komonikasi masyarakat telah mampu memanfaatkannya sehinga para konsumen bisa langsung pesan produk keprodusen melalui handphone, dengan demikian harga dapat dinegosiasi tanpa adanya rantai pasar yang panjang, produsen langsung menjual produknya kepada komsumen akhir dengan harga pasar dan ini secara umum pasti lebih tinggi bila dibandingkan dijual melalui pengepul, dengan demikian produsen dapat untung lebih banyak. Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali Toko Tani Indonesia yang telah didirikan tersebut menjual produk hasil pertanian dalam arti luas dari mulai beras sampai dengan produksi pangan hasil olahan berupa kopi bubuk. Dengan moto Petani Beruntung Pengusaha Untung Komsumen Tersenyum, diiringi komitmen dan kosistensi yang tinggi TTIC tersebut dapat berjalan dengan baik.
Ditambahkan oleh Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali bahwa bisnis E-comerce telah dikembangkan yang dapat didownload pada aplikasi play store dengan nama aplikasi ”toko tani Indonesia”, selanjutnya apabila telah terinstall maka pengguna akan mendapatkan User name dan password dari admin Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali melalui sms untuk dapat menggunakan aplikasi tersebut.

Seorang sedang berbelanja di TTIC Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali

Pada saat kunjungan penulis ke Toko Tani Indonesia Center milik Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali ada seorang pembeli beras (Bu Made Parni) dengan kemasan 5 Kg, sempat penulis tanya bahwa harga berasnya adalah Rp. 44.000/5Kg (Rp. 8.800/Kg), dibandingkan dengan dipasar harganya Rp. 50.000/5Kg (Rp. 10.000/Kg). bila dilihat standar harga berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 57/M-Dag/Per/8/2017 Tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras bahwa acuan harga beras medium di Bali dan Nusa Tenggara Barat adalah Rp. 9.450/Kg, harga beras medium di TTIC lebih murah. Lebih jauh dijelaskan bahwa melalui program Pengembangan LPUPM dari anggaran APBN kepada LPUPM diberikan bantuan dana operasional sebesar Rp. 1.200/Kg gabah dalam usaha pengolahan gabah menjadi beras untuk pengolahan gabah sebanyak 38 ton sampai dikemas siap kirim, sehingga LPUPM menjual berasnya ke TTIC lebih murah seharga Rp. 43.000,- (Rp. 8.600,-/Kg). menurut pengelola Toko Tani Indonesia Dinas Ketahanan Pangan Provinsi rata-rata omset per bulan mencapai Rp. 65 juta.

Suasana disply di TTIC Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali

Menyimak hal tersebut diatas dan dapat mencari solusi terhadap kendala masalah yang ada, komitmen dan kosistensi muncul dari semua pihak dan akhirnya program akan dapat mewujudkan tujuan akhirnya adalah mesejahteraan petani khusunya dan masyarakat pada umumnya (arjawa aphp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *